Tolaki adalah salah satu suku yang ada di Sulawesi
Tenggara.mendiami daerah yang berada di sekitar kabupaten Kendari dan Konawe.
Suku Tolaki berasal dari kerajaan Konawe. Dahulu, masyarakat Tolaki
umumnya merupakan masyarakat nomaden yang handal, hidup dari hasil berburu dan
meramu yang dilaksanakan secara gotong-royong. Hal ini ditandai dengan bukti
sejarah dalam bentuk kebudayaan memakan sagu (sinonggi/papeda), yang hingga
kini belum dibudidayakan atau dengan kata lain masih diperoleh asli dari alam. Raja
Konawe yang terkenal adalah Haluoleo (delapan hari). Masyarakat Kendari
percaya bahwa garis keturunan mereka berasal dari daerah Yunan Selatan yang
sudah berasimilasi dengan penduduk setempat, walaupun sampai saat ini belum ada
penelitian atau penelusuran ilmiah tentang hal tersebut. Kini masyarakat Tolaki
umumnya hidup berladang dan bersawah, maka ketergantungan terhadap air sangat
penting untuk kelangsungan pertanian mereka. untunglah mereka memiliki sungai
terbesar dan terpanjang di provinsi ini. Sungai ini dinamai sungai Konawe.
yang membelah daerah ini dari barat ke selatan menuju Selat Kendari.
Sagu merupakan salah satu jenis
bahan makanan pokok dari beberapa suku di Indonesia, termasuk suku Tolaki yang
mendiami wilayah daratan sulawesi tenggara yang oleh masyarakat sana makanan
pokoknya ini disebut dengan nama “Sinonggi”. Sinonggi ini sama dengan Papeda
kalau di Papua atau Maluku, atau kalau orang Luwu Sulawesi Selatan menyebutnya
Kapurung, namun dari ketiga nama di atas Sinonggi, Papeda dan Kapurung memiliki
bentuk penyajian yang berbeda-beda alias tidak sama dalam cara penyajian baik
bentuknya maupun hidangan pendampingnya.
Sinonggi dalam penyajiannya dimasak
dan disajikan secara terpisah antara Sinonggi, sayur lauknya dan lauk ikannya
serta hidangan pendamping pelengkap lainnya, barulah ketika akan disantap
Sinonggi disatukan dalam piring. Sinonggi yang merupakan kuliner tradisional
masyarakat Tolaki ini terdiri dari
1. Sinonggi yaitu saripati sagu yang
dikentalkan dengan cara menyiram dengan air panas secukupnya sambil
diaduk/diputar secara perlahan sampai mengental seperti “lem” dan siap
disajikan atau bahasa Tolakinya mosolori.
2. Sayur, sayur khas dan merupakan
pasangan paling cocok untuk menyantap sinonggi (bahasa daerahnya “mosonggi”)
adalah campuran sayur bayam, terong bulat kecil yang bahasa lokalnya disebut
palola, kemudian okri/vegeta atau bahasa lokalnya kopigandu serta kacang
panjang, yang dimasak bening dan biasanya saat disajikan air kuah sayur
dipisahkan dengan sayurnya.
3. Lauk ikan atau daging/ayam, yang
paling khas dan merupakan masakan yang paling cocok untuk lauk ikan,
daging/ayam ini adalah dimasak tawaoloho yaitu dimasak bening dengan sedikit
bumbu, namun ditambah dengan satu bumbu khas yakni daun kedondong hutan atau
bahasa lokalnya disebut tawaoloho, bisa juga memakai daun kedondong biasa namun
rasanya kurang kecut atau asam, dimana rasa kecut atau asam khas daun kedondong
inilah yang memberi sensasi rasa kecut segar yang membangkitkan selera.
4. Sambal, hampir semua hidangan akan
terasa lebih nikmat jika ada sambalnya, begitu pula dengan Sinonggi. Sambal
sinonggi biasanya hanya sambal ulek biasa, cabe dan tomat serta terasi
secukupnya sesuai selera dan yang agak khas sedikit adalah sambal dicampur
dengan mangga muda yang diparut atau dicacah, dan ada satu jenis mangga di
Sulawesi Tenggara yang rasanya sangat masam/kecut, kalau orang lokal
menyebutnya dengan nama mangga “hiku” kalau bahasa Indonesianya saya kurang
tahu karena belum pernah menemukannya. Namun justru rasa masam dan kecut ini
menjadikan makan Sinonggi atau mosonggi ini akan terasa nikmatnya sampai
mengucurkan keringat.
Bahan
- Sagu Secukupnya
- Air Secukupnya
- Sayur atau Kuah Ikan
- Sambal
- Daun Cemangi
- Jeruk Nipis/Purut
Cara Membuat:
Ambil Sagu secukupnya simpan di baskom yang kecil atau sedang, cuci hingga bersih terlebih dahulu tentunya, setelah bersih siapkan lah air panas, ingat yang mendidih, karena jika kurang mendidih biasanya sagu menjadi setengah matang ciri-ciri nya berwarna putih dan bergumpal. Tuangkan air mendidih ke baskom yang berisi sagu sedikit demi sedikit, sambil di aduk-aduk tuangkan terus sampai warna sagu berubah menjadi agak bening seperti gambar dibawah ini. Nah Sinonggi sudah jadi.
Cara Penyajian:
Seperti yang saya sebutkan di awal tadi, pelengkap Sinonggi biasa bermacam- macam tergantung selera, saya sangat suka makan sinonggi (Mosonggi) dengan kuah ikan atau pokea yang di masak pakai belimbing, lalu tidak lupa ikan Kabengga. Jadi cara penyajiannya adalah tergantung selera, ada juga yang mosonggi pake sayur, ada juga yang mosonggi pake kari ayam atau daging kari, pokok nya sesuai. Umumnya makanan siap saji seperti sayur, kuah ikan, serta sambal sudah disiapkan sebelum sinonggi siap, supaya dapat langsung disantap saat sinonggi masih panas. Sayur dan sambal biasa juga ditambah dengan daun kemangi dan jeruk purut.